ANDAI AKU…

andai aku…adalah malaikat

tentu aku tidak akan ada dosa

andai aku…seekor burung

aku akan terbang jauh, jauh keawan

aku akan mengabarkan siapa aku

dari atas khayangan

andai aku…ikan

aku akan berenang didalam laut

mencari tempat dimana aku dapat

menenangkan diri

andai aku…tumbuhan

aku akan memberi banyak

manfaat untuk seluruh

makhluk didunia

andai aku…

tapi aku…

hanyalah manusia biasa

Perbaungan, Maret 2009

KEPADA SIAPA SURAT INI KU KIRIM ?

Kutulis sepucuk surat ini

Hanya untuknya

Sepucuk surat ini ktulis diatas

Kertas sutra dan bertintakan emas

Sepucuk surat yang kutulis ini

Hanya kuberikan utuknya…

Dengan surat ini akan akan

Ku ceritakan tentang keadaan ku, bangsa dan Negara ku

Aku akan bercerita tentang

Seluruh isi hati ku padanya

Sepucuk surat ini adalah ungkapan

Isi hatiku tentang dirinya

Tapi aku tak tahu

Kepada siapa surat ini akan ku kirim ?

Perbaungan, Februari 2009

Kegalauan Hati Seseorang

Ketika malam berkabut diujung senja

Kudapati bayangannya yang penuh tawa.

Senja merah dilaut padang rumput

Seribu tawa hadir diantara gonggongan sepasang serigala

Malam suasana ramai didalam sepi,

Tak ada bintang jatuh didalam pelukku.

Kulihat nenek tua berjalan didampingi tongkat

Wajah tersapu hembusan debu, kulihat keatas cahaya bulan

Menghadirkan ketentraman bintang khayalan seakan menari menggodaku

Hewan malam mulai keluar mencari kesejahteraan malam

Dinding batu bagaikan selimut didalam hati

Seorang ibu menggendong anaknya

Aku tahu mereka pasti akan pulang ke rumah penuh kehangatan.

Aku terus berjalan diantara pasir-pasir yang setia mengikutiku

Lagi-lagi aku melihat kesegaran mata

Pasangan muda-mudi sedang berpeluk penuh dengan amarah dan kebencian

Setelah jauh dan lelah berjalan aku pun tiba ditempat

tujuan yaitu persinggahan hati.

Perbaungan, Januari 2008

Kesendirian

Pagi ini terlihat cukup cerah, sepertinya ini pagi yang asyik untuk lari pagi karena belakanan ini setiap pagi selalu hujan. Aku segera mengganti pakaianku dan memakai sepatu yang setia menemaniku lari pagi.

“Abhi, kamu sudah siap belum.” mas Danu melambaikan tangannya dan sepertinya dia telah bosan menungguku diluar. Aku pun segera menyusul mas Danu.

Seperti pagi-pagi biasanya, kebiasaan kebiasaan kami ketika lari pagi adalah lari sambil berbincang-bincang biasanya seputar kuliah ku dan pekerjaannya. Tapi baru sampai setengah perjalanan tiba-tiba perutku terasa sakit dan saking sakitnya aku berhenti dan duduk di trotoar jalan.

“kamu kenapa bhi?”. Mas Danu bertanya kepada ku

“engga tau nih mas, perutku tiba-tiba sakit.”

“kalau kamu sakit sebaiknya kita pulang saja.”

“tapi mas aku ga’ kuat jalan.”

“ya udah biar mas gendong.”

aku pun segera naik kepundaknya dan mas Danu pun menggendongku sampai rumah. Mas Danu memang abang terbaik yang pernah ada didunia ini, dia sangat pengertian dan perhatian kepadaku.

“sekarang kamu mandi, sarapan dan minum obat maag.” Mas Danu meninggalkan aku didalam kamar tidurku. Beberapa saat kemudian mas danu kembali kekamarku, kali ini dia sudah berpakaian rapi, sepertinya dia sudah bersiap berangkat kerja.

“kamu istirahat saja dulu dan tidak usah kuliah biar mas yang permisikan sama dosen kamu, mas berangkat kerja dulu ya.”

Uh dasar mas Danu, dia memang kelewat perhatian kepadaku saking perhatiannya kepadaku sampai-sampai di usianya yang ke-26 tahun ini masih saja betah menjomlo alasannya sih simple aja, dia takut kalau nanti dia punya pacar terus meried maka perhatiannya kepada ku akan berkurang. Padahal dia kan sudah kerja dan memegang jabatan yang cukup penting disalahsatu perusahaan garment, apalagi menurutku bahakan bukan aku saja tapi teman-temanku dan orang lain bilang mas Danu itu tampan dan ramah lagi.

Boring juga satu harian dirumah, sepertinya jarum jam dinding yang berada tepat didepanku tak bergerak sama sekali. Apalagi aku bukan tipe orang orang yang suka berdiam diri lama-lama dirumah, biasanya sehabis pulang kuliah aku dan teman-temanku selalu nongkrong dari satu warkop ke warkop yang lain terus mangkal di warnet sampai menjelang Maghrib.

“ assalammuaikum”

“waalaikum salam”

“gimana keadaan kamu”

“sudah sembuh mas”

“tuh ada teman kamu Shandy dan Rama”

ya ampun aku lupa, aku kan ada janji dengan mereka pergi ke ultah nya Dina malam ini dan sekarang sudah jam 7.25 aku harus segera bersiap-siap, aku harus tampil maksimal karena aku ga mau terlihat biasa-biasa saja didepan cewek yang aku taksir.

“wah keren banget kamu bhi.” Rama memberi komenternya padaku

“biasa, mau ketemu cewek impian.” sambung Shandy sedikit menggodaku.

“udah ah, kita berangkat sekarang.”

Gempita lampu pesta dengan ramai orang-orang yang sibuk berbincang-bincang dengan teman dan pasangan masing-masing diiringi dengan lagu-lagu ceria yang dilantunkan oleh group band yang sudah punya nama dikampus kami.

“hai Abhi.” seorang wanita cantik menghampiriku. Dia adalah dian, gadis cantik tapi baik dan ramah.

“hai na, selamat ulang tahun ya.” kami saling berjabat tangan

Setelah itu aku dan dina tak saling banyak bicara, kami saling membisu sepertinya kami kehabisan kata-kata.

“ada yang mau aku katakana sama kamu.” suara lembut dina mengoyakan kebisuan yang cukup lama berdiri di tengah-tengah kami.

“tentang apa.” aku bertanya dengan sedikit heran

“jujur aku suka sama kamu aku suka keceriaan kamu, kepribadian kamu apa adanya.” dina terdiam sesaat

Mendengar kata-kata yang diucapkan dina aku menjadi besar kepala aku tak menyangka ternyata dia juga suka sama aku.

“tapi.” Dina kembali terdiam

“besok kami sekeluarga akan pindah ke Makasar, jadi kita tidak akan bertemu untuk beberapa lama.”

“biarlah kita berjauhan tapi kita tetap akan menjaga hubungan ini, ya kan?”

Sebenarnya hati ku hatiku bahagia tapi kebahagian itu bercampur dengan rasa galau. Seperti terang tetapi sesaat kemudian redup seperti lampu-lampu pesta yang mulai redup satu-persatu karena pesta telah usai dan malam semakin larut.

Pagi ini cuaca terlihat berbeda, awan hitam terlihat begitu tebal hatiku berdebar, aku juga tak tau perasaan apa ini.

“Abhi, mas mau berangkat nih.” mendengar suara mas Danu aku langsung keluar dari kamar

“kamu enggak kuliah”

“masuk jam sepuluh mas’

“ya udah mas berangkat ya”

Pagi ini kulihat ada sesuatu yang berbeda dengan mas Danu, tak seperti biasanya, dia terlihat sedikit diam.

“mas berangkat ya”

Mas Danu memelukku, biasanya ketika dia berangkat kerja cuma mengacak-acak rambutku tapi pagi ini mengapa dia memelukku, suatu hal yang ku rasa aneh. Apalagi dia memelukku cuku lama, seperti pelukkan perpisahaan.

Aku takut terjadi apa-apa dengan mas Danu, apalagi di dunia ini Cuma dia satu-atunya orang yang kumiliki setelah ibu ku meninggal sepuluh tahun lalu karena serangan jantung.

Perasaan ku masih juga tak tenang, ada perasaan yang mendorongku untuk cepat pulang kerumah. Akhirnya aku minta izin kepada dosen ku agar memberiku izin untuk keluar lebih awal.

Kegelisahanku makin berkecamuk ketika aku sudah berada didepan rumah, kulihat ramai orang, mereka memakai peci dan yang wanita memakai jilbab. Tiba-tiba aku teringat mas Danu. aku melangkahkan kaki masuk kedalam dengan langkah gugup, kulihat mas Ryan teman dekat abangku menangis, aku makin penasaran. Sesaat nyawa didalam tubuh ini seperti memdadak berhenti ketika mata ku melihat tubuh mas Danu terbujur kaku tak bernyawa lagi.

“Abhi kamu yang tabah ya.” mas Ryan berusaha menenangkan ku

“tadi Danu terjatuh dari tangga ketika dia mau makan siang dan mengalami pendarahan dikepalanya”

Kini aku hanya sendiri, satu-satunya orang yang paling kusayangi telah pergi untuk selamnya. Tak ada lagi orang yang memperhatikan dan memanjaku, tak ada lagi suara canda tawa, tak ada keceriaan dihatiku. Aku masih tak percaya dengan semua yang terjadi padaku. Sepuluh tahun yang lalu ibuku pergi meninggalkan kami berdua untuk selamanya, kini abang yang paling kusayangi pun telah pergi.

“Abhi, ada atau tiada mas kamu harus bangkit jangan biarkan dirimu larut dalam kesedihan.” itulah kata-kata mas Danu yang diucapkannya dalam mimpiku.

Cuaca siang ini cukup panas, matahari sepertinya tepat diatas kepalaku tapi beruntunglah aku telah tiba dirumah.

“Assalammualaikum.” Terdengar suara seorang wanita sambil mengetuk pintu rumahku

“Waalaikumsalam.” Aku menjawab salam darinya kubuka pintu dan kulihat seorang wanita berkerudung yang usianya kira-kira 40 tahunan.

“kamu Abhi.”

“ya, ibu siapa.” jawabku dengan sedikit heran

“bisa kita bicara didalam”

“oh iya, silahkan masuk”

“sebentar ya bu saya ambilkan air dulu”

“perkenalkan nama saya dian.” sang ibu memperkenalkan dirinya

“dulu saya adalah teman baik ibu dan ayah kamu.”

“sebenarnya kedatangan saya kesini ingin menyampaikan suatu rahasia yang sudah cukup lama sekali terpendam.”

“rahasia apa bu?”

“tentang ayahmu”

“sebenarnya ayah kamu masih hidup”

Mendengar kata-kata yang diucapkan bu Dian aku begitu terkejut, aku tak percaya, setahuku ayahku telah lama meninggal bahkan aku sering ziarah dipusaranya.

“dulu kehidupan ibu dan ayahmu sangat bahagia mereka bahkan dijuluki pasangan yang harmonis, apalagi setelah kelahiran kamu perhatiannya kepada ibu mu semakin bertambah.” bu Dian berhenti sesaat.

“terus bu.” aku makin penasaran

“tapi itu tak lama, setelah kamu berusia dua tahun prahara itu muncul ketika ayah kamu jatuh cinta lagi dan menikah lagi dengan wanita lain” bu Dian tiba-tiba menangis

“siapa wanita itu bu”

“saya”

aku begitu terkejut mendengar pernyataan bu Dian, mengapa ayah tega menghianati ibu dengan menikah lagi dengan sahabatnya sendiri dan mengapa bu Dian juga tega merebut suami sahabatnya.

“sekarang ayah kamu sakit parah, dia riwat dirumah sakit dan dia perlu banyak sekali sumbangan darah, satu-satunya orang yang bisa menolongnya adalah kamu”

Berhari-hari aku masih tak percaya dengan semua ini, aku bingung apakah aku harus menolong orang yang telah menelantarkan kami, membiarkan ibu mencari uang mati-matian untuk makan sehari-hari kami sementara orang yang seharusnya melindungi kami justru bersenang-senang dengan istri mudanya. Sejenak aku merenung, biar bagaimanapun juga didalam tubuh ku ini juga mengalir darahnya. Akhirnya aku mencoba mengalahkan ego ku, aku juga ingin tau wajah ayah yang tak pernah ku lihat seumur hidupku.

Aku berjalan memasuki sebuah lorong yang berada tepat dilantai tiga, menurut suster ayah ku dirawat disini tepatnya dikamar 3A, kulihat didalam kamar tersebut bu Dian dan seorang anak laki-laki yang usianya sekitar 18 tahun. Aku membuka pintu dan sepertinya bu Dian mendengar suara pintu yang terbuka dan dengan segara menoleh kepadaku.

“Abhi, kamu datang nak” kulihat menangis tapi masih terlihat senyuman kecil dari bibirnya

Aku melangkahkan kakiku kearah seorang pria yang tengah terbaring lemah dan aku memperhatikan wajahnya.

“ini ayah kamu, kamu harus menolongnya”

“tapi bu, ayahkan juga punya anak dari ibu kenapa tidak dia saja yang menyumbangkan darahnya”

“ini Dio adik kamu, tapi tidak bisa bhi”

“kenapa tidak bisa?” tanyaku dengan nada pelan

“sejak Dio berumur sepuluh tahun dia diagnosa oleh dokter kena penyakit ginjal dan ginjalnya pernah dioperasi, sekarang dia hanya memiliki satu ginjal”

Mendengar penjelasan bu Dian aku jadi semakin tak tega, aku berfikir biarlah Cuma kami yang menderita ditinggalkan oleh ayah dan jangan sampai bu Dian dan Dio juga ikut merasakan hal yang sama.

“baiklah saya bersedia mendonorkan darah saya”

Aku berbaring diatas sebuah ranjang tepat disebelah ayahku terbaring. Seorang perawat memasangkan sebuah alat yang aku sendiri juga tidak tahu namanya sepertinya itu alat untuk menyedot darahku. Aku memejamkan mataku aku teringat orang-orang yang ku sayangi, ibu, mas Danu dan juga Dina yang hingga kini entah dimana dan apakabarnya. Aku teringat masa-masa indah ketika ibu dan mas Danu masih hidup juga kenangan ketika pertama sekali kenal Dian. Tiba-tiba semuanya hilang ketika seorang perawat membangunkan aku

“mas sudah sudah selesai”

Aku segera membuka mata dan seorang dokter tersenyum kepadaku

“transfer darah berjalan dengan sukses, insya allah ayah kamu akan siuman dalam beberapa hari ini”

Aku tak tau apakah aku harus senang atau tidak, tapi aku tak bisa memungkiri kalau aku bersyukur karena transfer darah telah berhasil dan aku berdoa mudah-mudahan ayah cepat sembuh.

Aku berjalan meninggalkan kamar 3A dan aku juga akan meninggalkan rumah sakit ini, ketika baru selangkah aku melangkahakan kaki ku dari gerbang rumah sakit Harapan Bersama tiba-tiba seseorang memanggilku

“mas Abhi” ternyata dia Dio

“mas mau kemana.” tanya Dio dengan nafas yang terengah-engah

“pulang.” jawab ku simple

“kata ibu, mas jangan pulang. mas tinggal bersama kita, sama ayah”

“mas ga bisa Dio, mas minta sama kamu jaga ayah dan ibu jadi anak yang baik ya”

Setelah itu aku naik ke sebuah bis yang sepertinya memang sudah dari tadi menunggu ku. Aku memang sudah memaafkan dan bu Dian, tapi untuk tinggal bersama mereka aku tidak bisa. Aku takut jika aku berada diantara mereka aku justru membenci mereka.

Kini aku kembali dikesendirian, hari-hariku hanya ku habiskan untuk kuliah, kerja dan menyendiri, tapi aku sadar kesendirian tidak boleh merenggut masa depanku.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.